Kegagalan dan Pertemuan

Malam itu, iseng melanda membuatku pergi ke laman Facebook salah satu teman yang rajin mengunggah foto-foto selagi masih zamannya mengenakan seragam putih abu-abu. Beberapa album yang selalu disesuaikan dengan event kala itu memudahkanku untuk mengingat kejadian apa saja yang telah kami lalui. Seperti biasa, efek nostalgia dengan ampuhnya membuatku larut dalam kenangan-kenangan masa itu.

Menurutku, pertemuan dan takdir memang selalu lucu. Kita tak pernah tahu hal sekecil upil bisa membawa kita ke skenario apa selanjutnya di masa yang akan datang dan membawa dampak bagi kehidupan kita. Itulah kenapa aku selalu suka legenda benang merah dan teori butterfly effect.

Benar kata orang istilah “masa SMA adalah masa yang paling gak bisa dilupain”. Di SMA ini, aku dipertemukan dengan keluarga keduaku. Orang-orang aneh dengan latar belakang dan sifat yang berbeda-beda. Yang entah kenapa perbedaan itu yang saling  melengkapi dan mempersatukan kami, selalu mendukung satu sama lain, mengata-ngatain satu sama lain, selalu ada di saat apa pun, dan intinya… ah susah dijelaskan. Gak akan ada habisnya kalau ngomongin mereka. Masa ini membuatku belajar tentang arti persahabatan (agak picisan ya, tapi begitulah adanya).

Processed with VSCO with m5 preset

Processed with VSCO with m5 preset

Sebelumnya, gak afdol kalau ngomongin masa SMA tapi gak tau dimana itu SMAku. Baiklah, tempat aku mengecam pendidikan wajib terakhir itu adalah sekolah yang penuh sejarah gak hanya untuk kami murid-murid dan lulusannya, tapi juga untuk Jakarta sendiri. Yak, aku bersekolah di SMA Negeri 1 Jakarta. Sekolah yang sudah berdiri sejak 1908 itu dulunya memang terkenal karena hal buruknya. Tapi, enggak kok itu masa lalu saja. SMAN 1 yang lebih dikenal dengan nama Boedoet/Budut ini selalu mengukir prestasi dan melahirkan alumni-alumni hebat yang berpengaruh di Indonesia (salah satunya aku dan teman-teman seangkatan, aamiin). Bagaimana bisa aku masuk SMA itu? Seperti yang sudah disinggung di atas, takdir selalu punya caranya sendiri untuk mempertemukanku.sman-1-1

(sumber: google)

Awalnya, aku “terpaksa” masuk Budut karena gagal tes masuk di salah satu SMA (yang dulunya masih)RSBI unggulan di Jakarta Pusat. Kenapa aku gagal tes? Lagi-lagi, itu takdir. Hasil kelulusan SMPku alhamdulillahnya terbilang cukup tinggi. Sayangnya, karena SMPku berasal dari luar Jakarta, ada kuota kursi untuk penerimaan siswa baru. Di hari ujian, aku mendapati kelas tiga terakhir dan berada paling atas dikarenakan daftarnya di hari menjelang penutupan. Agak canggung karena suasana ujian dan tidak ada wajah-wajah yang kukenal. Yang paling aku ingat waktu itu ada satu anak telat masuk kelas dan ada satu orang berada di ujung kanan depan dekat meja guru, nyengir-nyegir sendiri sambil menengok ke belakang sebelum ujian di mulai. Yah, aku tidak terlalu mempedulikannya. Hari ujian pun berlalu, datanglah waktu pengumuman. Waktu itu sepupuku dan alm. pacarnya yang mendaftar di sekolah yang sama, heboh menelpon dan membuka hasil onlinenya. Ternyata sepupuku dan alm. pacarnya lolos ujian. Ketika aku mencari nama dan nomor ujianku sampai halaman terakhir, hasilnya  tidak ada. Kemudian, aku membuka daftar “siswa cadangan” dan ternyata, ada namaku di daftar paling atas dengan tanda merah di sampingnya, yang menandakan aku siswa luar daerah. Setelah dilihat-lihat nilai yang tertera, nilaiku masih jauh lebih tinggi dibandingkan nilai anak di daftar siswa terpilih paling terakhir. Penasaran, ayahku bertanya ke sekolah tersebut mengenai daftar itu. Ternyata, kuota untuk siswa luar daerah hanya 12 orang sedangkan aku urutan ke 13 berdasarkan nilai. Kalau ada siswa lolos ujian yang mengundurkan diri, barulah namaku akan masuk terpilih. Kata pihak mereka “ditunggu saja”. Hari demi hari kami tunggu, namaku stuck di daftar itu. Sampai hari penutupan pun, namaku tidak berpindah ke daftar yang kami inginkan. Akhirnya, aku pasrah tidak bisa masuk ke sekolah tersebut.

Masih ada pendaftaran sekolah reguler setelah RSBI. Pada tahap ini, tidak ada ujian masuk dan kita diperbolehkan untuk memilih tiga alternatif SMA Negeri yang ada di Jakarta. Alm. Papa menyarankan untuk memilih SMA Negeri 1 di pilihan pertama, dengan alasan selain jarak yang sangat dekat dengan rumah, keluarga papa rata-rata adalah alumni Budut. Singkat cerita, aku secara resmi menjadi siswi SMA Negeri 1 Jakarta. Awalnya, di luar menjadi siswi SMA dan resmi mengenakan rok abu-abu, nothing special dengan masuknya aku di sekolah baru itu. Aku menemukan wajah-wajah lama, teman-teman sd, yang cukup banyak. Sisanya adalah tetangga dan wajah-wajah baru. Aku masuk di kelas X7 (karena angkatanku adalah angkatan kurikulum 2006 terakhir, jadi kami belum ada pembagian jurusan di kelas sepuluh), di sana ada Dhita Indriani, sahabatku dari SD. Aku pun mulai beradaptasi dengan teman-teman sekelas dan menjadi akrab dengan Aisyah Shabrina, Sofi Fitriyani, dan Dyah Widowati.

Processed with VSCO with m5 preset

Masih dalam masa orientasi siswa, di hari ketiga adalah hari yang dinanti-nanti. Kenapa? pada hari ini, semua ekstrakurikuler atau ekskul yang terdaftar di Budut mengadakan promosi ke kelas-kelas dan mengadakan demonstrasi di lapangan. Saat pendaftaran, promosi ekskul ini memang sudah gencar dilakukan dan semuanya menarik. Budut memang terkenal dengan kegiatan ekstrakurikulernya yang aktif dan banyak mengukir prestasi non akademis juga.

Karena yang ditampilkan keren-keren, aku sempat dilanda kebingungan untuk memilih ekskul, apalagi dengan adanya usulan-usulan dari teman-teman sekelas juga. Pada saat itu, aku memilih untuk mengikuti ekskul fotografi, karena aku memang tertarik dengan dunia fotografi, dan kelompok ilmiah remaja (KIR), ini karena aku ikut-ikutan Sofi dan Dhita. Bentroknya jadwal pertemuan kedua ekskul tersebut membuatku harus memilih salah satu ekskul. Entah kenapa, aku malah cenderung ke KIR daripada foto. Mungkin karena Sofi dan Dhita juga sudah fix disitu. Akhirnya aku melepas fotografi dan aktif mengikuti diklat KIR. Terlebih lagi, kegiatan KIR yang seru karena tiap Kamis diklat diisi dengan eksperimen sedangkan hari Sabtunya diklat jalan-jalan ke museum dan planetarium. Beberapa pertemuan pertama pun, sudah banyak acara yang akan diselenggarakan dan membuat kami berpartisipasi sebagai panitia. Seiring berjalannya diklat, aku bertemu dan menjadi cukup akrab dengan anak-anak KIR seangkatanku, ada Aji (teman SD), Maya, Deas, Dhita, Sofi, Shidqi, Dini, Setya, Naufal Maulana. Awal-awal masih sedikit dan saat itu, kami masih dibilang caang alias calon anggota alias belum resmi menjadi anggota KIR.

Tibalah saat pelantikan ekstrakurikuler Budut yang berbarengan sehingga kami memang harus memilih salah satu ekskul. Beberapa anak KIR yang sebelumnya ikut diklat ada yang memilih ekskul lain dan ada juga anak-anak KIR yang sebelumnya tidak pernah ikut diklat malah ikut pelantikan KIR. Sebelumnya ada persiapan untuk pelantikan, kami diberi teka-teki untuk membuat nametag, dan semua ukurannya harus dipecahkan dengan menggunakan rumus! Anak KIR yang cewek-cewek memutuskan untuk mengerjakannya bersama di rumah Sofi. Itu adalah dimulainya kenangan pertama kami sebelum kami menjadi keluarga. Kami mengerjakannya dari siang hingga malam. Tentu saja ada Mila, Deas, Maya, Dhea, dan Dini yang pintar matematika sehingga hasilnya bisa terpecahkan. Setelah mendapatkan hasilnya, kami memberitahu yang cowok-cowok.

Dan pelantikan KIR 33 (ya, kami angkatan ke-33. KIR SMA Negeri 1 merupakan ekskul kedua tertua) tiga hari dua malam di Mega Mendung pun selesai. Banyak cerita yang terjadi yang selalu kami kenang di setiap pertemuan kami. Akhirnya kami resmi menjadi anggota KIR dan menjadi keluarga. Nama-nama tersebut adalah Maya, Deas, Mila, Dini, Dhea, Sofi, Dhita, Aisyah, Shidqi, Aji, Naufal, Setya, Faqih, Rivera, dan tentu saja aku sendiri.

Semua proses yang berjalan di KIR mulai dari pelantikan, hingga kami menjadi panitia pelantikan, dan hingga kami menjadi pengurus membuat kami saling mengenal satu sama lain lebih dalam dan saling membutuhkan satu sama lain. Semua hal itu juga berpengaruh dalam kehidupan pribadi kami. Aku tak pernah menyangka kalau dari ekstrakurikuler, bisa membuatku dan juga teman-teman yang lain menjadi satu keluarga. Padahal ada beberapa orang yang tidak pernah sekelas denganku. Salah satunya Maya. Dalam satu kesempatan, aku sempat bercerita dengannya dan beberapa orang lain tentang bagaimana aku masuk Budut. Maya pun bercerita. Tak disangka-sangka, ternyata Maya dan aku melakukan tes yang sama di SMA sebelumnya, bahkan kami satu kelas. Dan… setelah melihat cengiran Maya, aku baru sadar bahwa dia adalah orang yang duduk di pojok depan yang cengar-cengir dan suka menengok kebelakang. Cengirannya sangat khas sekali. Kami pun menjadi sangat dekat dan selalu pulang bareng naik angkot M12 karena rumah kami searah. Satu hal yang paling aku ingat dari Maya adalah, sewaktu di tahun ketiga kami sudah memilih untuk meneruskan mau berkuliah dimana, aku yang suka gambar berniat untuk masuk salah satu institut dan ingin berkuliah di Bandung. Maya sempat bilang “Fa, lo kuliah di Jakarta aja sih, gue takut lo keawa pergaulan di sana” di angkot. Hal itu entah kenapa membuatku sedih sekaligus terharu.

Processed with VSCO with m5 preset

Oh iya, karena anak-anak KIR kebanyakan aktif di rohis juga, aku pun menjadi sering menghabiskan waktu bersama dengan anak-anak rohis dan menjadi cukup akrab. Di tahun terakhir SMA, kami lebih banyak melalui waktu bersama. Kami pun punya kebiasaan yang cukup lucu, yakni membuat grup untuk mengadakan surprise untuk yang akan berulang tahun. Kadang, ulang tahunnya sudah lewat berbulan-bulan, tapi kami tetap mengadakan surprise itu. Kebiasaan itu terbawa sampai kami kuliah sekarang, dengan kesibukan kami masing-masing, jarak tempat kuliah yang terpencar-pencar, kalau ada waktu kami selalu meluangkannya untuk surprise yang sekaligus dijadikan waktu untuk silahturahmi dan temu kangen. Meskipun belakangan, dengan intensitas kesibukan masing-masing yang semakin tinggi, agak susah untuk berkumpul semua dalam satu waktu. Itu membuat kami cukup sedih juga.

Processed with VSCO with m5 preset

Processed with VSCO with m5 preset

Aku teringat kata-kata Aji yang cukup membuatku kaget, tiba-tiba dia chat dan bilang “Fa, kadang ngumpul-ngumpul tadi kalo ga sampe lama rugi, ya. Padahal momen kaya tadi mungkin beberapa tahun kedepan bakal susah buat kumpul. Bakal miss moment banget”. Kata-kata yang di luar dugaan diucapkan oleh seorang Aji ini juga yang membuatku bernostalgia dan menggerakkanku menulis cerita ini.

Tidak hanya anak-anak KIR saja yang membuatku rindu, tapi Vencitee (kelas 11 IPA 3) yang penuh kenangan dan solid. Terutama saat kita studytour, live-in, perpisahan Vencitee part 1 & part 2, dan wisuda :’)

Processed with VSCO with m5 preset

Processed with VSCO with m5 preset

Processed with VSCO with m5 preset

Processed with VSCO with m5 preset

Processed with VSCO with m5 preset

Aku berharap semoga semua hubungan ini bisa terus terjalin bahkan sampai kita menutup hayat nanti. Aku banyak belajar dan memaknai hal lagi karena kalian. Berkat kalian, aku tidak menyesal pernah gagal. Justru aku malah bersyukur. Kegagalan itu membuat hidupku jauh lebih bermakna, jauh lebih berwarna, dan penuh syukur. I’m very blessed. Terima kasih!

 

-Arifa Rizka Utami, ditulis dengan penuh perasaan.

(ps. mau cerita semua anak-anak KIR 33 tapi kepanjangan, kalian terlalu absurd. Ditunggu surprise selanjutnya dan undangan nikah masing-masing)

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s