Perjalanan (cukup) Nekat, Bandung 2017

   Untuk cerita perjalanan di Malaysia hari keempat dan kelima, saya merasa tidak memiliki kekuatan untuk melanjutkan cerita itu. Kepergian alm. Papa enam bulan lalu cukup banyak membuat kami, khususnya saya, harus membenahi beberapa hal termasuk diri saya sendiri. Selain melaksanakan tanggung jawab tersebut, kegiatan organisasi rutin dan mengerjakan komisi dari relasi menyibukkan hari-hari saya. Namun, itu tidak menjauhkan rasa rindu saya untuk menapakkan kaki di luar ibukota.

   Libur lebaran ini, saya tidak punya rencana untuk pergi ke luar kota. Melihat timeline Instagram yang dipenuhi feeds orang-orang mudik yang sudah menyebar di berbagai daerah membuat saya iri dan ngebet untuk jalan-jalan. Akhirnya, bersama dengan sepupu saya, Gita Parwitasari(yang biasa dipanggil Enggi), kami memutuskan berlibur di Bandung selama dua hari.

   Meskipun hanya dua hari, tapi perjalanan kali ini sangat berkesan untuk saya. Dengan beberapa drama yang terjadi berturut-turut hingga perjalanan di hari terakhir yang membuat saya takut sekaligus takjub. Terlebih lagi karena ini kali pertama saya merasakan pergi ke luar kota hanya berdua dengan teman sebaya, tanpa adanya penduduk lokal yang memandu. Dan pertama kalinya saya pergi menggunakan uang sendiri (sehingga tentunya budget harus ditekan). Yah, intinya kami backpacker wanna be(semi backpacker).

 Drama dimulai ketika kami berangkat dari Stasiun Gambir. Kereta dengan keberangkatan 7.45 WIB yang kami tumpangi tiba telat beberapa menit. Selain itu, ada drama lainnya yang sedikit memalukan dialami Enggi, hahahaha. Seperti biasa, saya duduk di jendela kalau pergi ke manapun sehingga saya bisa menikmati pemandangan yang terlihat. Melewati Bekasi, Purwakarta, dan Cimahi sangat menakjubkan.

Processed with VSCO with m5 preset

Processed with VSCO with hb2 preset

Processed with VSCO with a6 preset

   Kurang lebih tiga jam kemudian, kami tiba di Stasiun Bandung. Karena kami bukan backpacker sejati, jadi kami langsung menuju hotel dengan menggunakan Grab. Adanya transportasi online saat ini sangat sangat mempermudah perjalanan (meskipun transport menjadi faktor yang paling menguras budget). Lokasi hotel kami berada di Lembang. Kenapa di Lembang? Karena Lembang menjadi destinasi liburan kami seharian. Dana untuk penginapan cukup murah dibandingkan dengan transportasi. Melalui aplikasi booking hotel online, kami mendapatkan hotel dengan harga Rp 236.000,00 untuk semalam. Tapi, seperti kata pepatah, “ada harga ada kualitas”.

   Untuk hotelnya sendiri sebenarnya cukup bagus dan lumayan bersih. Dilihat dari review orang-orang juga penilaiannya bagus dan rate-nya cukup tinggi. Tapi, pelayanan check-in menurut saya kurang baik secara keamanan dan penjaganya terlalu banyak yang seharusnya tidak perlu. Setelah merapihkan barang, kami langsung ke tujuan pertama yaitu Farmhouse Lembang. Dari hotel yang berada di pinggir jalan, kami menanjakki jalanan. Ternyata, dari hotel ke Farmhouse itu cukup dekat sehingga tidak perlu naik angkutan umum lagi.

  Dengan membayar Rp 25.000,00 per orang untuk tiket, kita sudah bisa merasakan suasana Farmhouse yang ternyata dirancang seperti sebuah kota kecil bernuansa Eropa dan sedikit India. Konsepnya sendiri unik dan colourfull. Kalau sebelumnya yang ada di bayangan saya Farmhouse itu tidak begitu luas, ternyata salah. Destinasi wisata ini sangat luas dan banyak yang bisa explore. Oiya, tiket masuk 25K tersebut bisa ditukarkan dengan susu khas Farmhouse atau menjadi potongan harga makanan yang ada di restoran. Kami memilih untuk menukarkannya dengan susu Farmhouse. Tapi, saya merekomendasikan untuk ditukarkan dengan potongan harga di restoran jika Anda belum makan siang atau lapar.

Processed with VSCO with a6 preset

  Berada di dalam Farmhouse terasa berada di suatu kota kecil di Eropa karena suasana yang dibangun begitu kuat. Ada gembok cinta yang bisa kita tuliskan dan pasang di tempat yang telah disediakan seperti yang ada di Perancis dan itu benar-benar panjang dan full. Ada juga toko-toko merchandise yang menjual berbagai pernak-pernik etnik untuk buah tangan. Selain pernak-pernik, beberapa toko yang desainnya juga unik menjual makanan ringan untuk oleh-oleh.

Processed with VSCO with m5 preset

   Fyi, di Farmhouse Lembang tidak diperbolehkan untuk membawa makanan dan minuman dari luar. Instead, di sana terdapat beberapa restoran yang bisa kita pilih untuk makan besar atau brunch, nih.

   Kami memilih untuk makan di Backyard Kitchen. Interior ruangannya benar-benar lucu dan memanjakan para penyuka vintage dan classic, salah duanya kami. Mulai dari dinding, lukisan-lukisan, furnitur, dan pajangannya terpadu dengan sangat cantik. Makanan yang disajikan berupa Western Food dengan kisaran harga di atas standar budget kami. Untuk itu, potongan harga 25K sangat dibutuhkan. Tapi sebenarnya harga yang dibayarkan sepadan dengan makanan yang disajikan. Seporsi Fish n Chips dan Chicken Cordon Blue-nya besar sehingga mengenyangkan bahkan dibungkus dan dibawa pulang.

IMG_5746

IMG_5745

Processed with VSCO with m5 preset

   Farmhouse Lembang juga menyediakan jasa sewa kostum khas nona Belanda yang disewakan per jam sambil berkeliling. Untuk harga sewanya saya kurang tahu.

   Di sini juga terkenal karena ada tiruan rumah dalam film The Hobbit. Banyak yang ingin berfoto dengan latar belakang rumah Hobbit tersebut sehingga harus mengantre.

Processed with VSCO with hb2 preset

Processed with VSCO with p5 preset

Processed with VSCO with a6 preset

Processed with VSCO with m5 preset

   Selain ada berbagai macam bunga dan tumbuhan, ada juga peternakan dengan berbagai macam hewan ternak seperti domba, anak sapi, landak, unggas, dan lainnya. Kita juga bisa memberi makan hewan di arena petting zoo. Ada satu area dimana pengunjung diperbolehkan untuk masuk dan berinteraksi langsung dengan anak-anak domba. Saya pun tak mau melewatkannya. Ada kejadian lucu di mana ada satu mbak-mbak memberi makan domba(dengan memegang wortel) yang kemudian langsung diserbu oleh para domba. Tapi, bukannya memberi wortel, dia malah ketakutan dan teriak-teriak kabur. Alhasil, menjadi tontonan pengunjung dan mereka tertawa menyaksikan kejadian itu.

Processed with VSCO with a6 preset

  Ternyata menyusuri Farmhouse dari ujung ke ujung cukup menghabiskan banyak waktu. Sekitar jam 16.00, kami pindah destinasi ke Floating Market. Dari Farmhouse jaraknya sekitar 2 KM dan ditempuh dengan GrabCar. Ongkosnya sekitar Rp 15.000,00.

   Waktu itu saya sudah pernah ke Floating Market bersama adik dan alm. Papa jadi rasanya tidak terlalu istimewa. Tapi ini yang saya suka dari kota Bandung yang selalu berinovasi. Ternyata sudah ada wahana dan sesuatu yang baru lagi di Floating Market. Kali ini, ada mini pulau bertemakan Jepang, dan di bagian belakang ada beberapa area lagi yang sudah dan masih dibangun. Sama seperti Farmhouse Lembang, ada tiket masuk yang bisa ditukarkan dengan minuman hangat yang bisa kita pilih. Tiket masuknya seharga Rp 20.000,00 per orang.

   Merasa sedikit berat ketika datang ke Floating Market karena teringat akan kenangan setahun yang lalu bersama Papa. Dan ternyata waktu itu menjadi terakhir kalinya kami ke sini bersama.

   Nah, berbeda dengan suasana di Farmhouse yang kebaratan, Floating Market terasa sangat adem dengan nuansa persawahan dan tradisionalnya. Kita bisa memilih untuk berjalan kaki menyusuri suasana pedesaannya atau menyebrangi danau buatan dengan perahu.

Processed with VSCO with hb2 preset

Processed with VSCO with m3 preset

   Berjalan ke belakang floating market, kami melihat adanya rumah-rumah kecil nan cantik dan pekarangan bunga warna-warni yang luas. Ternyata, bunga-bunga itu adalah Rainbow Garden. Untuk memasuki Rainbow Garden, kita harus membayar Rp. 10.000,00 per orang. Di pintu masuk, kita diperbolehkan meminjam topi-topi lucu untuk melengkapi suasana di kebun bunganya. Di dalam area Rainbow Garden, ada rumah kaca mini seperti yang ada di perkebunan sungguhan. Ada juga ayunan dan tempat sehingga kita bisa berfoto dari ketinggian.

Processed with VSCO with hb2 preset

Processed with VSCO with p5 preset

Processed with VSCO with m5 preset

Processed with VSCO with p5 preset

Processed with VSCO with m5 preset

   Sayangnya, waktu berjalan cepat dan tak terasa sudah beranjak malam. Ada banyak tempat di Lembang yang ingin kami kunjungi seperti Observatorium Bosscha, Maribaya Resort, dan Kampung Gajah  yang ternyata tidak cukup waktu meskipun seharian di sana.

   Untuk hotel yang kami tempati, mungkin rating bagus bagi backpacker sesungguhnya atau orang-orang yang pergi ramai-ramai. Tapi, bagi kami kenyamanannya kurang.

  Anyway, kenapa judulnya “cukup nekat”,? tunggu tentang perjalanan kami hari berikutnya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s