(day 3)Malaysia, November’16

Bangun pagi disambut dengan hawa yang brrrr… sangat dingin meskipun kamar hotel kami tidak dilengkapi dengan AC. Alhasil kami tidak mandi pagi (hehehehe)… And we were starving so, we were going down to the lobby dan… alangkah takjubnya saya ketika menemukan pemandangan yang terpampang dari jendela kaca. Indahnya… itulah salah satu keunggulan ketika kita berada (literally) di atas, tempat yang tinggi. Kita bisa melihat pemandangan di bawah dengan perspektif berbeda. Masya Allah…

img_9116

Kami makan di salah satu kedai bernama “1 Meter Tea”. Awalnya saya bingung kenapa, but apparently itu karena minuman yang menjadi maskot dari kedai itu adalah teh tarik, yang ditarik sampai ketinggian 1 meter. Kedainya kecil, meskipun begitu banyak sekali pengunjungnya karena harga makanan yang dijajakan cukup murah dan tempatnya cozy.

Selama masih berada di Genting, saya tidak mau menyia-nyiakan pengalaman berada di daerah berkabut nan dinging, jadi saya selalu balik lagi ke tempat parkiran yang ada di luar resort. Tapi pagi itu kabutnya tidak sebanyak di siang hari.

img_9104

Sekitar jam 10, kami bergegas kembali ke KL. Mr. Vela sudah menanti kami di bawah rupanya. Jadi, kami turun kembali menggunakan cable car. Karena masih pagi, cable carnya sepi sehingga dalam satu tabung hanya berisi kami hehehehe.

img_9163

img_9165

Di balik kabut yang mencekam, pemandangan pagi yang sangat indah menyambut!

img_9178

img_9180Curam.

Banyak suara kera muncul dan terdengar hingga ke dalam tabung. Hutan di bawah kami seperti belum terjamah manusia.  Agak ngeri sih…

Seketemunya dengan Mr. Vela, kami langsung meluncur menuju destinasi selanjutnya. Batu Caves.

Memasuki kawasan Batu Caves, warna-warni terang dan eksotis khas budaya India menyambut. Kami seolah sedang berada dalam video klip salah satu lagu Coldplay, Hymne for The Weekend.

img_9190

Batu Caves merupakan bukit karst/kapur yang terdapat beberapa gua. Gua-gua di Batu Caves ini terdapat kuil dan merupakan salah satu kuil Hindu yang populer (di luar India). Setiap harinya, Batu Caves tidak pernah sepi pengunjung baik oleh para Hindi yang hendak ibadah maupun turis asing yang berkunjung.

img_9202Suasana di bawah gua, agak mirip dengan di Turki(yang waktu itu pernah saya lihat di TV)

img_9198

Untuk mencapai gua, kita harus melalui anak tangga yang sangat tinggi dan curam… dan banyak monyet yang bebas melanglang buana dengan menggendong anaknya. Oh, ya… kalau kesini, simpan makanan Anda, lebih baik lagi kalau tidak membawa makanan. Tentunya jika tidak ingin dijambret monyet-monyet. Karena banyak banget bule yang bawa makanan, mungkin mereka gatau, dan langsung dijambret makanannya :’)

img_9208Butuh fisik dan tekad yang kuat untuk mencapai gua
img_9214Pemandangan sekitar Batu Caves dan distrik Gombak. Sebelah kiri patung adik Ganesa yang sedang direnov

Tapi tetap, view dari atas memang the best.

Dan sampailah saya dan papa (Adek nyerah) ke dalam gua! Dan wow… what an amazing view.

img_9221Some kind of fortune teller
img_9236Sedang ibadah
img_9244Langit-langit gua.
img_9238Ternyata eh ternyata, di dalam gua ada tangga lagi

Di dalam gua pun ramai sekali dengan sedang dilaksanakannya ritual untuk ibadah. Dan ternyata ada tangga lagi untuk ke kuil yang lainnya.

img_9246

img_9250

img_9266

Senangnya hati ini…

Setelah itu saya dan papa turun, dan di pertengahan tangga ternyata ada satu gua lagi. Tapi gua yang satu ini gelap banget dan ada antrian untuk masuk sehingga kami cuma sampai bagian luar saja.

img_9273

img_9276

img_9275

Saya akan kasih bonus foto hot mommy sedang menggendong anaknya…

img_9281

Kemudian kami langsung turun. Jangan lupa persediaan minuman yang cukup karena suhu di sekitar sini cukup membuat kita dehidrasi.

Di bawah, saya melihat anak kecil gemuk sedang asyik bermain dengan burung-burung. Anak itu lucu banget dan saking asyiknya sampai-sampai dia ga sadar banyak orang-orang yang gemes ngeliatin dia. Lucu bangett!

img_9290

Dari Batu Caves, kami meluncur ke Istana Negara Malaysia.

img_9305

Istana Negara terletak di Jalan Duta, Kuala Lumpur, dan merupakan istana yang baru untuk menggantikan istana lama yang terletak di Jalan Istana. Istana Negara ini menjadi tempat tinggal resmi Yang Dipertuan Agung(gelar untuk raja Malaysia).

Selayaknya istana, Istana Negara dibangun dengan megah dan luas. Karena terkenalnya, hingga banyak turis asing khususnya yang mampir dan menjadikannya sebagai salah satu objek wisata. Namun, kita hanya bisa memandang istana dari balik jeruji gerbang masuk saja. Gerbang dijaga ketat oleh empat orang penjaga, salah duanya dengan didampingi oleh kuda yang kuat dan gagah.

img_9306

Sewaktu sampai, tiba-tiba ada seseorang yang mencolek saya. Kirain papa atau Adek, saya kaget ketika tahu bahwa itu bukan keduanya melainkan seorang turis bapak-bapak asal Tiongkok yang dari bajunya teridentifikasi kalau dia tergabung dalam rombongan turis yang kami temui mulai dari hari pertama sampai Malaysia dan sewaktu di Genting. Dia bicara dengan menggunakan bahasa Tiongkok (yang saya tidak mengerti:”) kemudian tanpa menunggu jawaban dari saya sudah bersiap dengan smartphonenya. Ternyata dia bermaksud untuk berfoto bersama alias wefie. Hahahahahahaha…. saya mengiyakan saja (bingung juga mau nolak toh dia ga bakal ngerti dan udah siaga). Dalam hati “what the…” sekaligus mau ngakak. Bener toh kalau ada meme yang bilang turis dari Asia, terutama daerah si bapak tadi, kalau berkunjung ke suatu tempat yang diutamakan adalah selfie, dengan apa dan siapa saja. Duh…

img_9303Foto diambil secara diam-diam oleh Adek
img_9315Tampak Istana Negara dari balik pintu gerbang

img_9313

Karena sudah memasuki siang hari, perut yang sudah kelaparan merengek minta makan.

Perjalanan selanjutnya adalah: Tempat makan siang!

Kami diantar Mr. Vela makan siang di sebuah kantin India yang menjual makanan halal dan murah meriah. Kantinnya di luar ekspektasi cukup luas dan bersih. Kantin ini berada di kawasan Bukit Bintang.

img_9321Penampakkan seberang kantin
img_9322Bagian depan kantin

Setelah makan, kami diantar ke toko cokelat dan tas lokal. Ini merupakan program wajib dari pemerintah untuk mendukung produk-produk lokal Malaysia.

Seharusnya, hari ini Mr. Vela mengantarkan kami ke beberapa tempat lagi, tapi karena sedang ada acara sehingga akses untuk ke tempat-tempat ditutup dan kami akhirnya dipulangkan ke hotel.

Hari ini juga merupakan hari terakhir kami diantar Mr. Vela(besok acara sendiri, hari terakhir ada orang lain). Sebelum berpisah, kami berfoto bersama dengan background bas kebanggaan.

img_9325Saya, Mr. Vela, dan papa. Pencahayaan tidak terlalu bagus di foto ini

Sekitar jam tiga sore, kami berangkat menuju Pasar Seni dan Petaling Street. Lokasi keduanya tidak jauh dari Bukit Bintang sehingga bisa dijangkau dengan menggunakan GO KL purple line.

img_9336Suasana sore hari di Bukit Bintang
img_9366Memasuki kawasan Pasar Seni

Pasar Seni atau Central Market yang sudah ada sejak tahun 1888 ini merupakan pusat kesenian (art & craft) sekaligus cinderamata dan kuliner yang terkenal di Malaysia. Banyak toko yang menawarkan berbagai macam kerajinan tangan mulai dari tas, lukisan, kain, dsb dari para artisan lokal. Tidak hanya itu, cokelat khas Malaysia juga dijual di beberapa toko yang ada di sini. Ada satu booth yang menarik perhatian saya, booth ini memajang beberapa merchandise berilustrasi. Saya tidak terlalu ingat nama brand nya. Kami hanya mampir sebentar karena rencananya besok kami akan kembali lagi untuk berbelanja buah tangan.

img_9374

Lanjut ke Petaling Street. Merupakan kawasan Chinatown di Malaysia. Kawasan Petaling Street menjadi pusat perbelanjaan yang menawarkan berbagai barang untuk keperluan sehari-hari maupun buah tangan. Tempatnya mirip Pasar Baru yang ada di Jakarta Pusat. Harga yang ditawarkan benar-benar miring. Di sini berbelanja harus teliti dan jangan sungkan untuk menawar.

img_9356

img_9360

img_9362

Dari sini kami berencana untuk pergi ke Masjid Jamek. Kami berjalan kaki menyusuri jalanan Petaling. Menjelang sore, pemandangan yang terlihat jadi semakin indah. Saya suka gedung-gedung yang kami lewati sembari menyusuri jalan ini.

img_9364

img_9379

img_9381

img_9387Sungai Kiang. Dari sini Masjid Jamek dapat terlihat

img_9391

img_9404

Akhirnya setelah perjalanan yang cukup membuat kaki lemas, kami sampai pada tujuan. Yakni salah satu masjid tertua di Malaysia, Masjid Jamek.

img_9406

Masjid yang dibangun pada tahun 1909 ini terletak di pertemuan antara Sungai Kiang dan Sungai Gombak. Sewaktu kami ke sini, Masjidnya sedang direnovasi. Masjid Jamek memiliki payung raksasa yang mirip seperti yang ada di Masjid Nabawi, tapi yang ini lebih kecil.

img_9405

img_9407

img_9409

Baiklah, karena seharian ini kami acara kami cukup padat, Masjid Jamek menjadi destinasi terakhir kami. Matahari juga sudah mulai turun. Langit biru muda perlahan berubah mejadi biru tua. Di seberang masjid, ada stasiun monorail sehingga kami pulang dengan kereta.

Dari stasiun pemandangan langit bersama kubah masjid begitu indah.

img_9411

What a beautiful day. Terima kasih ya Allah.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s