(day 4)Perjalanan di Singapura, Agt’16

Dan setiap permulaan akan selalu ada akhirannya. Hari Selasa merupakan penghujung dari empat hari perjalanan kami di negeri singa ini. Di hari terakhir selalu muncul perasaan tidak rela untuk pulang karena sudah terbiasa dengan environment sini(dan belum siap untuk kembali ke realita kehidupan Jakarta) tapi mau tidak mau tentunya kami harus kembali ke rumah.

Di hari terakhir ini, sebenarnya tidak ada tempat yang wajib dikunjungi. Jadi, waktunya bagi saya merealisasikan rencana saya untuk mengunjungi Singapore Art Museum! Mungkin pada blog ini saya akan lebih banyak menceritakan tentang pengalaman sewaktu mengunjungi SAM dan SAM8Q.

Dari Singapore Plaza, kami menuju Raffles Hotel dengan bis, seperti rute yang kami lalui kemarin, kemudian berjalan sedikit sampai SAM. Sebelum kesana, kami berjalan-jalan dulu di sekitar jalan Bras Basah dan makan di foodcourt yang terdapat di sebelah SAM.

img_7420

img_7424H-1 Singapore’s Independence Day.

img_7425

img_7429

img_7436

Nah, sebelumnya saya sudah melakukan riset ala-ala mengenai biaya masuk SAM, pada mesin pencari google tertera 10 SGD untuk satu orang dewasa non-Singaporean. Sementara papa dan Adek menunggu di foodcourt(Adek tidak tertarik, papa mager), saya pergi ke SAM sendirian. Ketika hendak membayar untuk tiket masuk, ternyata hari ini tidak dikenakan biaya. Lumayan, menghemat budget. Langsung saja saya masuk ke dalam untuk melihat instalasi karya yang sedang dipamerkan.

img_7439

img_7440

img_7451

Bertajuk Odyssey, karya-karya yang dipamerkan menceritakan berbagai perjalanan akan perkembangan sains dan teknologi selama berabad-abad hingga sekarang.  Kita, manusia, telah mengarungi tujuh lautan bahkan terjun ke dasar laut yang paling dalam, tetapi masih banyak hal(yang belum terjamah) yang harus kita temukan dan kita pelajari dari dunia alien ini(bumi).

img_7448

img_7453Instalasi bunga ini aslinya bergerak membuka dan menutup.

img_7443

img_7441

img_7457Interior dari Singapore Art Museum.

Sayangnya, saya lupa keterangan-keterangan mengenai karya-karyanya 😦

Sewaktu saya hendak keluar dari SAM, tiba-tiba seorang petugas paruh baya mencegat saya dan bertanya apakah saya orang Indonesia atau bukan. Saya sedikit kaget, “waduh kenapa, nih, semencurigakan inikah tampang w” dalam hati, kemudian menjawab ya. Ternyata dia bermaksud untuk menginformasikan bahwa setelah keluar dari sini, saya harus belok ke kiri, mengikuti panah penunjuk yang ada di lantai. Sedikit kesulitan untuk mengerti apa yang dikatakan si bapak petugas meskipun dia sudah menggunakan bahasa Melayu, saya mengikut saja apa yang dikatakannya. Rupanya, saya disuruh untuk mengunjungi bagian lain dari Singapore Art Museum yakni SAM8Q. Nama SAM8Q merupakan kepanjangan dari SAM at 8Q, yang mana 8Q merupakan lokasinya yakni 8 Queen St. Suasana di depannya sepi.

img_7460Bagian depan gedung SAM8Q.

SAM8Q ini merupakan tempat pameran yang memfitur karya-karya kontemporer, mirip-mirip Galeri Nasional(iyalah) yang ada di daerah Gambir, Jakarta Pusat. Yang dipamerkan di sini lebih ke sesuatu yang bergerak juga film screening. Dibandingkan dengan SAM, saya lebih, lebih, lebih suka SAM8Q. Selain tempatnya yang di-setting lebih playful karena kebanyakan keluarga dengan anak-anak kecil yang berkunjung juga view yang bisa terlihat dari SAM8Q, instalasi-instalasi yang didisplay di sini lebih interaktif dan boleh dipegang, muehehehehe.

Di SAM8Q ini, terdapat 4 lantai. Setiap lantai ada ruangan tersendiri untuk instalasi karya dan film screening. Nah, satu ruangan itu isinya hanya ada satu sampai dua instalasi yang merupakan satu rangkaian. Susah dimengerti, ya? Intinya, satu ruangan hanya untuk satu sampai dua orang seniman, gituh. Oh iya, di SAM dan SAM 8Q, setiap instalasi dijaga oleh satu sampai dua orang petugas.

img_7463

img_7466

Foto-foto diatas merupakan instalasi yang terdapat di lantai dasar SAM8Q. Sebelum masuk ruangan, kita harus melepas sepatu. Kita diperbolehkan untuk duduk-duduk maupun menyentuh karya yang ada di sini. Asyiik…

Naik ke lantai selanjutnya, ada ruangan untuk film screening. Bangkunya lumayan banyak. Saya tidak mengambil foto di sini.

Masih di lantai yang sama dengan ruangan berbeda, terdapat instalasi oleh Karina Smigla Bobinski, Polandia. Berjudul ADA. Instalasi ini terdiri dari Balon PVC, helium, charcoal, foil, dan tape. Dalam ruangan gelap dengan satu objek balon besar bernama ADA, kita diperbolehkan untuk menyentuh, mendorong, ataupun memukul(sewajarnya) si ADA ini dengan tangan. Nah, si ADA kemudian akan memantul, melawan dinding, atap, maupun lantai dan tangan kita kemudian akan kotor akibat charcoal setelah menyentuh si ADA, begitu pula dengan ADA yang akan kotor karena menampakkan bekas telapak tangan kita. Konsep yang diciptakan Smigla adalah, setiap perbuatan atau action kita akan menimbulkan dampak pada lingkungan, entah dampak apa itu.

img_7471

img_7470

Di lantai 3, ada instalasi dari Krit Ngamsom, Thailand. Instalasi dari fibreglass, semen, baja, keramik, dan pompa air. Karya ini menggambarkan bahwa objek tertentu terkadang bisa mengingatkan kita dengan binatang tertentu.

img_7476

img_7478

img_7481

Di ruangan lainnya, ada rangkaian ilustrasi oleh Tan Zi Xi, Singapura. Bertajuk An Effort Most Futile. Karyanya menggambarkan tentang betapa menantang dan sulitnya usaha untuk menyelamatkan/melindungi lingkungan alam kita terutama yang sudah tercemar.

img_7484

img_7485

img_7486

Di samping ilustrasinya, instalasi “Plastic Ocean” merefleksikan lautan yang sudah dikacaukan oleh plastik. Rangkaian instalasi dari Tan Zi Xi ini merupakan salah satu yang menjadi favorit saya.

img_7489

img_7492Terdapat lebih dari 20,000 sampah plastik untuk instalasi “Plastic Ocean”.

Saya juga suka ilustrasi-ilustrasi Tan Zi Xi yang lainnya, huehehehe.

Dan sampailah saya pada lantai teratas dari SAM8Q! Di lantai ini hanya ada satu yang sedang diisi instalasi. Begitu pintu terbuka(semua ruangan sebelumnya juga tertutup kecuali yang di lantai dasar) saya disambut oleh dua orang petugas, satu bapak-bapak satu lagi masih muda sekitar umur 25an. Yang masih muda ini sangat ramah, dan ganteng *fangirl mode on*. Sewaktu baru masuk saja saya sudah senang, ketika menyadari bahwa instalasi apa yang sedang dipamerkan disini saya menjadi semakin senang. Saya tidak menyangka bahwa instalasi ini dari Indonesia, yak, ini instalasi dari Papermoon Puppet Theatre.

Dengan judul Suara Muara (The Sounds of the Estuary), Papermoon Puppet Theatre bercerita tentang Lasem, sebuah kota kecil di Jawa sebelah utara yang mempertemukan Sungai Lasem dengan Laut Jawa, merupakan sebuah pelabuhan yang sangat penting pada zaman dahulu. Para pedagang dan pengembara dari daerah yang jauh datang dan berlayar dari pantai itu ke daratan yang jauh. Sekarang, sudah banyak yang berubah di dunia ini dan Lasem sekarang menjadi kota kecil, penggambarannya bagaikan pak tua yang kesepian atau paman yang terlupakan. Bagaimanapun, tempat lama selalu punya rahasianya sendiri, dan cerita untuk diceritakan, jika saja kita peduli untuk berhenti dan mendengarkan.

Setting dari instalasi ini membawa saya berandai-andai ke sebuah negeri nun jauh disana. Musik yang mengiringi juga menambah sendu suasana di ruangan ini. Ahh… rasanya saya tidak bisa berkata-kata lagi waktu itu.

img_7494Bagian yang paling saya suka. Sewaktu menikmati bagian instalasi ini sederhana: rasanya adem. 

img_7495

img_7498

Saya keluar dengan perasaan sangat bahagia ditambah petugas tadi mengatakan “thank you” dengan senyum yang ramah sewaktu saya melewati pintu (petugas-petugas yang sebelumnya tidak mengatakan apa-apa). Ditambah lagi pemandangan yang terlihat dari depan ruangan instalasi Papermoon Puppet Theatre tadi menyambut saya. Sejauh ini, semua yang ada di lantai 4 SAM8Q ini menjadi favorit saya. Momen yang benar-benar membuat saya bahagia, yang tidak akan terulang lagi.

img_7502Pemandangan yang terlihat dari lantai 4 SAM8Q, Catholic High School.

Benar-benar bersyukur bisa sempat mengunjungi SAM&SAM8Q di waktu itu.

Setelahnya, saya langsung bergabung dengan rombongan di foodcourt tadi. Ada satu area yang belum kami jamah selama perjalanan ini, area yang menjadi tujuan kami selanjutnya ialah Bugis.

img_7504

Di Bugis Street ini banyak pusat perbelanjaan yang menjadi incaran para turis. Dan ternyata harga oleh-oleh yang dijajakan di sini lebih miring lagi. Baru ingat, harga-harga banyak didiskon besar-besaran dalam rangka menyambut hari kemerdekaan Singapura yang jatuh besok hari, tanggal 10 Agustus. Tidak hanya di Bugis saja, tapi di berbagai tempat perbelanjaan juga berlangsung diskon. Dan diskonnya memang benar diskon.

img_7505

img_7513

img_7515

Akhirnya kami kembali ke Chinatown untuk mengambil barang bawaan dan melakukan proses check-out.

Dan setelah empat hari menetap di sini, baru di hari terakhir saya mengabadikan suasana Chinatown dan area penginapan. Kemarin-kemarin selalu tidak sempat. Hfftt..

img_7519

img_7520

img_7518Chinatown yang selalu padat.
img_7416Sepanjang stasiun MRT. Saya lupa ini di stasiun apa.

Setelahnya kami langsung menuju Changi International Airport by SMRT. Spent three hours there, kemudian terbang menuju Jakarta, pulang. Sewaktu take off, langit yang sudah mulai gelap dan pancaran sinar lampu-lampu dari kota Singapura yang terlihat dari atas seperti mengucapkan salam perpisahan yang hangat untuk saya, melepaskan. But we know that we will meet again in another chance.

Perjalanan di Singapura, Agustus 2016, selesai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s