(day 1)Perjalanan di Singapura, Agt ’16

Singapura, atau yang biasa disebut Singapur oleh orang-orang Indonesia termasuk ke dalam salah satu daftar destinasi wisata yang harus dikunjungi terutama saat holiday season tiba. Selain jaraknya yang tidak terlalu jauh dari Nusantara, kepengurusan surat-surat izinnya pun jauh lebih mudah. Pertimbangan tersebutlah yang membuat Singapur menjadi destinasi saya dan keluarga pada liburan kemarin ini. I was pretty excited, meskipun perginya di minggu terakhir liburan, soalnya selama liburan 3 bulan kemarin ga pergi kemana-mana selain di sekitaran Jakarta dan sudah lama jiwa petualang ini terpasung di gua. And ini pertama kalinya saya travelling ke luar lagi, setelah memiliki kamera so.. yeah *cheering inside*.

Saya sekeluarga berangkat menuju Singapura bersama maskapai penerbangan Garuda Indonesia dengan jadwal keberangkatan pagi, 6 Agustus 2016. Selama kurang lebih satu setengah jam kami berada di atas, bersisian dengan gumpalan awan. Itu merupakan salah satu hal yang paling saya sukai dari setiap perjalanan udara. “I am home”, mungkin itu ungkapan yang menggambarkan perasaan saya ketika berada dekat dengan awan, meskipun dipisahkan dengan lapisan badan pesawat –oke jadi ngawur. Sekitar jam 10-an waktu Singapur, kami mendarat di Changi International Airport. Jaringan data langsung non-aktif secara otomatis. Para zombie internet, terutama adek, langsung panik dan sibuk mengaktifkan paket internasional, dsb. Yak, itu ga penting. Masih sekitar jam 10.30-an, kami mengikuti ritual papa –kelilingin Changi, entah kenapa doski ga bosen-bosen melakukan ritual yang sama tiap kali kesitu, tapi ya memang suasananya enak, sih. Setelah papa puas dan kami juga sudah pegal karena membawa beban perbekalan selama empat hari, kami langsung ke stasiun MRT(kereta cepat bawah tanah SG). Di Singapur, kereta menjadi salah satu transportasi yang vital, selain cepat(SMRT termasuk dalam salah satu transportasi tercepat di dunia) untuk mengantarkan rakyat SG yang super sibuk dan padat, fee-nya juga merakyat. Seperti di Indonesia, kita harus memiliki kartu MRT untuk melakukan perjalanan, jadi saya membeli dulu kartu jaminannya. And guess what, kartunya edisi Gudetama!! Gemash!

Processed with VSCO with a6 preset

Kalau pertama kali berkunjung ke Singapur, memang agak bingung ketika melihat jalur SMRT. Untuk menuju daerah tertentu, kita harus tahu kereta yang yang kita tuju transit di persimpangan mana. SMRT memiliki 5 jalur, Kuning, Merah, Hijau, Biru, dan Ungu. Kelima warna tersebut mewakili stasiun daerah yang dilewati. Penginapan kami berada di Chinatown, sebelumnya kami harus transit di Tanah Merah. Karena bermula di stasiun Changi, kereta padat merayap dengan para turis lainnya. Setelah transit di Tanah Merah, kami langsung menuju Chinatown.

IMG_6662

Ketika tiba di permukaan stasiun Chinatown, suasana kebudayaannya langsung terasa. Chinatown merupakan daerah menetapnya etnis Tionghoa Singapura. Warna merah yang dominan dan aroma semerbak dupa menyambut kami. People’s Park Complex , tempat penginapan kami merupakan apartemen yang memang biasa disewakan untuk turis-turis yang berkunjung ke Singapur. Papa memilih penginapan ini karena harga sewanya yang tidak begitu mahal. Berikut rincian untuk penginapan di People’s Park  Complex:

People’s Park Complex 1, Park Road, Singapore

  • 1 kamar max. 4 orang
  • kamar mandi luar
  • fee: 90SGD/malam
  • including wifi
  • harga dan lokasi kamar tergantung pemilik sewa
IMG_6666
View from 30th floor, People’s Park Complex

Setelah merapihkan barang dan rehat sejenak, perjalanan kami disini pun dimulai. Hari pertama kami gunakan untuk menyesuaikan diri dulu dengan suasana sibuk dan hectic Singapur. Saya juga mempelajari jalur-jalur kereta dan daerah-daerahnya. Mulanya memang bingung dan melelahkan. Adek sempat mengalami culture shock meskipun tidak lama.

Pertama, kami pergi ke Marina Bay Sands, salah satu pusat perbelanjaan&hiburan di daerah Marina Bay. Kami berkeliling sejenak dan menikmati udara Singapur. Saat itu langit agak mendung. Dari Marina Bay Sands, bisa terlihat pemandangan Merlion, landmark negara ini, Esplanade, juga stadion, dan lainnya. Di sini juga ada ArtScience Museum, sebuah museum pameran permanen yang memadukan seni dengan science. ArtScience Museum ini baru dibuka pada tahun 2011. Saya tidak masuk karena harga tiketnya lumayan mahal; untuk dewasa non-Singaporean itu sekitar 17SGD, terdapat pengelompokkan harga (bisa dilihat situs terkait). Jadi saya harus tahan keinginan untuk ke sana *sobs*. Kami berjalan menyusuri jembatan Helix yang terkenal di Singapur. Jembatan ini menghubungkan Marina Bay Sands dengan Stadion Youth Olympic Park. Pemandangannya menakjubkan. Banyak turis yang turut mengabadikan momen masing-masing. Dari situ juga dapat terlihat Singapore Flyer. Kami menyusuri stadion dengan kursi warna-warni yang sangat eye catching dan rintik hujan –gerimis mulai berjatuhan. As we walked faster and closer menuju kawasan Merlion, gerimisnya berhenti. Kebetulan, di kawasan itu sedang ada food festival, serupa dengan food festival di Indo. Kami melanjutkan jalan ke Merlion. Di sana, paps narsis.

IMG_6703

IMG_6737

IMG_6743

IMG_6760

Setelahnya, kami melanjutkan perjalanan. Next destination, makan di Lucky Plaza, tapi dengan jalur papa; melesir lewat Esplanade. Di sekitar Esplanade, banyak komunitas terutama seni tari dan sebagainya yang sedang berkumpul dan melakukan performance or some kind of pemanasan/latihan. Saya sangat menikmati pemandangan ini. Dengan MRT, kami menuju stasiun Orchard.

Orchard’s such a wrap. Jalanan paling terkenal di Singapura ini memang yang paling ramai. Mungkin tidak perlu dijelaskan lagi suasana di Orchard. Ketika berlibur atau mengunjungi Singapur, jangan lupa untuk selalu sedia minuman. Karena kita kebanyakan akan berjalan kaki setelah naik MRT atau bis. Dan… biaya hidup Singapur meskipun murah(untuk warganya) tapi tidak untuk turis seperti saya dan keluarga. Kami melarat di sana TwT. Bayangkan, 1.5SDG for mineral water, but 1 SDG is almost 10K IDR(saat ini). 10K for mineral water, mbahmu. Intinya, harus refill minuman dari tempat penginapan(disediakan, tergantung penginapannya) kalo ga mau boros. Melesir, melesir, melesir, tak lupa paps narsis di depan Es Potong Uncle yang fenomenal.

IMG_6801
Uncle’s.Uncle nya ga keliatan tho

Barulah, setelah sholat dan lain-lain, kami makan di Lucky Plaza. Bagi yang Muslim, jangan lupa untuk bertanya apakah makanan yang disajikan halal atau tidak. Kalau dulu, ada batas antara makanan yang halal dan non-halal. Sekarang sudah tidak dipisah, tapi sudah banyak cap halal resminya. Sekali lagi, harus hemat-hemat kalau soal makanan. Harga untuk seporsi nasi lemak (Singapore version of nasi uduk) itu sekitar 3-5 SDG. 30K buat nasi uduk, di Indo goceng juga udah kenyang perut sampe mules lagi. Ya sekali lagi, itu buat yang low budget aja kalo yang engga sih, bodo amat. Jangan lupa untuk mencicipi kaya toast di Lucky Plaza. Ada paket hematnya kaya toast plus minum (kopi/teh). Oiya, kebanyakan yang melayaninya itu ibu-ibu paruh baya berbahasa Singlish. Kalau berlogat Kanton, ya siap-siap aja bingung, hahaha. Tapi itu adalah bagian terseru dari berkunjung ke negara lain. Banyak ilmu dan kebudayaan baru yang bisa saya pelajari langsung. Metode belajar yang paling saya suka.

And.. Hari sudah berganti malam, sebelum pulang ke penginapan, kami mampir ke Takashimaya, pusat perbelanjaan juga. Disitu sedang ada diskon mainan besar-besaran. Ramai dan padat. Lanjut pulang dengan MRT menuju Chinatown.

Pulang ke penginapan, kaki terasa benar-benar panas. Hari pertama benar-benar ga terkontrol padahal sebelumnya sudah direncanakan. Tapi kesalahan ada untuk dipelajari. Besok perjalanan sudah menanti. But before that, we need to charge our energy to start new journey.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s